Jumat, 10 November 2006

Heldy Djafar, Cinta Terakhir Sang Presiden


Siapakah sebenarnya gadis cantik bernama Heldy Djafar yang berhasil menjadi cinta terakhir sang presiden? Heldy Djafar, atau biasa sering dipanggil dengan nama Heldy tersebut adalah seorang gadis yang berasal dari Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Ia lahir pada 10 Agustus 1947.
Sebenarnya, Heldy sudah mulai kagum dan tertarik dengan sang presiden ketika Bung Karno berpidato di alun-alun Samarinda. Saat itu, usia Heldy baru menginjak 10 tahun. Namun sayangnya, sang kakak tidak mengijinkan Heldy untuk melihat pidato tersebut karena suasana di alun-alun Samarinda yang cukup ramai dan hiruk pikuk. Memang, seperti itulah bila Bung Karno sedang berpidato, alun-alun seluas apapun serasa tidak mencukupi karena selalu dibanjiri oleh rakyat Indonesia yang ingin mendengar pidato sang presiden.
Heldy pun bersedih hati karena ia hanya bisa mendengarkan pidato sang presiden. Padahal, ia sangat ingin melihat kebesaran dan ketokohan sosok yang fotonya banyak terpasang di dinding rumah orangtuanya itu. 
Di keluarganya, Heldy memang terkenal sebagai seorang gadis yang cantik. Namun, selain cantik, Heldy juga dikenal begitu pandai dan luwes dalam mengenakan kebaya. Itulah sebabnya mengapa Heldy bisa memenangkan lomba mengenakan kebaya dan juga tercatat pernah menjadi cover dalam sebuah majalah yang bernama Majalah Pantjawarna
Salah satu bukti kecerdasan Heldy lainnya adalah dengan terpilihnya Heldy ke dalam barisan Bhineka Tunggal Ika, yaitu sebuah barisan yang diprakarsai langsung oleh Presiden Soekarno. Barisan ini terdiri dari remaja-remaja dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Barisan ini adalah bagian dari protocol istana yang selalu berdiri berjajar sebagai pagar ayu dan juga pagar bagus dalam acara-acara kenegaraan. Tentu saja, Heldy merasa sangat bahagia sekali karena dengan terpilihnya ia menjadi salah satu bagian dari barisan Bhineka Tunggal Ika tersebut, bisa saja menjadi kunci pembuka kesempatannya untuk bertemu dengan sang Presiden.
Pada suatu hari di tahun 1964, harapan Heldy tersebut pun menjadi sebuah kenyataan ketika acara pembukaan lomba bulu tangkis, Thomas Cup. Saat itu, Heldy ikut serta berjajar di tangga Istana Merdeka bersama anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika lainnya. Pada waktu itu, Heldy mengenakan kebaya berwarna pink dengan kain lereng dan juga berselendang.
Tibalah saatnya di mana Bung Karno mulai berjalan menuruni anak tangga. Seperti biasa, beliau berjalan sambil mengamati barisan Bhineka Tunggal Ika yang berjajar di sebelah kanan dan kirinya. Beliau pun memandang satu demi satu anggota barisan tersebut sambil tersenyum manis kepada mereka semua. Ketika Bung Karno berdiri depan Heldy, beliau pun mendekati Heldy kemudian menepuk bahu kirinya.
“Dari mana asal kamu?”
“Dari Kalimantan, Pak,” jawab Heldy kaget dan gemetar. 
“Oh, aku kira dari Sunda. Rupanya ada orang Kalimantan yang cantik.”
Kebahagiaan Heldy tidak bisa tergambarkan saat itu. Ia bangga karena akhirnya, ia bisa juga melihat tokoh idolanya yang selama ini hanya bisa dilihat lewat foto dan didengar suaranya lewat radio. Pertemuan pertama yang penuh ketegangan namun sangat berkesan. 
Pertemuan Heldy dengan sang presiden tidak hanya terjadi saat itu saja, pertemuan kedua pun terjadi saat Heldy dan kawan-kawan mendadak diminta pihak sekolah menjadi barisan Bhinneka Tungga Ika di Istana Bogor. Pada saat itu, semua keperluan sudah disediakan lengkap. Setiap anggota barisan Bhineka Tunggal Ika mendapatkan kain, kebaya, cemara untuk sanggul, selop. Tidak hanya itu saja, mereka juga sudah disiapkan seorang penata rias, yaitu Ibu Maryati yang akan mendandani mereka semua.
Heldy yang saat itu merasa tidak nyaman karena tampil denga kebaya yang kedodoran, sanggulnya kendor, tidak berani tampil di depan. Heldy hanya bisa berdiri di sudut agar terlihat tidak mencolok. Namun sayangnya, harapan Heldy kali ini tidak terwujud nyata. Bung Karno malah mendekatinya dan mulai bertanya,
 “Sanggulmu salah, bukan begini. Juga kebaya dan kainmu. Siapa yang mendandanimu?”
“Ibu Maryati, Pak,” jawab Heldy dengan polos sambil menundukkan wajahnya. Kakinya begitu gemetar dan hatinya berdebar kencang sekali. Pertemuan kedua yang sungguh merontokkan mentalnya.
Beban mental Heldy pun tidak hanya pada saat itu saja. Saat itu, ia diminta untuk bernyanyi, kebetulan Heldy mendapatkan giliran yang pertama kali. Heldy memilih lagu daerah Kalimantan, karena sedikit orang yang paham dengan bahasa Kalimantan. Heldy memilih sebuah lagu daerah Kalimantan yang bercerita tentang kisah panen padi. Namun sayangnya, Presiden Soekarno justru meminta Heldy untuk mengulanginya. Maka Heldy pun mengulangi nyanyiannya tersebut dengan keringat dingin yang terus bercucuran.
Setelah persitiwa tersebut, Heldy jarang bertemu dengan sang Presiden. Terlebih lagi ketika Heldy harus menjalani operasi amandel. Namun sayangnya, ia kembali harus bertugas sebagai barisan Bhineka Tunggal Ika. Saat itu, ia berdandan cantik dengan sanggul yang sempurna dan sebuah kebaya hijau yang anggun dan pas di badan.
Ketika acara dimulai, Heldy belum bisa menghilangkan rasa canggungnya sehingga ia tetap mengambil untuk berdiri di posisi sudut. Tapi Presiden Soekarno malah meminta Heldy mendekat. Kala itu, mental Heldy pun langsung jatuh. Ia tidak berhenti berpikir, kesalahan apa lagi kali ini?, sehingga gadis cantik yang berusia 18 tahun tersebut melangkah pelan dengan kaki gemetaran.
“Ke mana saja kau, sudah lama tidak kelihatan?” Rupanya presiden memperhatikan.
“Sakit, Pak,” jawab Heldy dengan suara lirih tercekat.
“Bohong, kau pacaran. Saya lihat kau di Metropole sedang menonton film.”
“Tidak, Pak,” kali ini Heldy berani mengangkat muka. Tapi pertanyaaan bertubi-tubi mengubur kembali nyalinya. Heldy kembali tertunduk.
“Nanti kau lenso sama aku ya. Sini, kau duduk dekat aku,” kata Presiden.
Waktu untuk menari lenso pun tiba. Heldy yang sebelumnya sudah sering diajari kakaknya menari lenso, tahu harus melakukan apa. Tapi menari lenso dengan Presiden?, hal tersebut tidak pernah terlintas di pikiran Heldy sama sekali.
Siapa yang tidak gugup bila menari dengan seorang presiden?. Rasa gugup tersebut pun semakin bertambah ketika Heldy harus menari lenso bersama presiden di hadapan banyak tamu penting, juga artis penghibur yang lebih senior seperti Titiek Puspa, Rita Zahara, dan Feti Fatimah. Heldy hanya bisa menunduk dan membiarkan pinggang kecilnya dipeluk oleh Bung Karno yang tak pernah berhenti menatapnya. Pada saat itulah, Bung Karno pun segera bertanya kepada Heldy.
“Siapa namamu?” tanya Bung Karno sambil berbisik.
“Heldy,” jawabnya pelahan.
“Sekolahmu?”
“Kelas dua SKKA.”
“Berapa umurmu?”
“Delapan belas tahun.”
“Hm … cukup.”
“Boleh aku datang ke rumahmu?”
Dari situlah, Heldy mulai yakin dengan perasaan Bung Karno yang sepertinya benar-benar menyukainya. Tapi, saat itu Heldy penuh dengan dilema. Ia tidak mau terlalu percaya diri tentang “khayalannya” itu. Heldy cukup tahu akan posisinya yang hanyalah rakyat jelata. Namun di tengah-tengah rasa bimbangnya, Heldy tidak tahu maksud perkataan Bung Karno, “Hmm … cukup” tadi? 
Seorang Presiden Pun Pernah “Ditolak”
Hubungan Heldy dengan Bung Karno pun berlanjut dengan kunjungan Sang Presiden ke rumah Heldy pada tanggal 12 Mei 1965. Sebenarnya, sebelum kedatangan Bung Karno, beliau sudah mengutus beberapa ajudannya untuk memberitahukan kepada keluarga Heldy tentang rencana kedatangan Bung Karno. Pada kesempatan itu, beberapa ajudannya tersebut juga berpesan kepada saudara Heldy untuk mematikan lampu teras.
Adapun maksud dari kunjungan Bung Karno tersebut adalah, bahwa Bung Karno hendak menyatakan ketertarikannya kepada Heldy. Saat itu, Heldy hanya bisa mengatakan bahwa ia masih terlalu muda. Heldy meminta agar Bung Karno memilih wanita lain saja. Heldy merasa masih terlalu muda. Heldy meminta agar Bung Karno memilih perempuan lain saja. Bung Karno hanya bisa tersenyum saja, sambil menyerahkan sebuah bingkisan yang berisi jam tangan Rolex.
Selanjutnya Bung Karno pun mengajak Heldy sekeluarga untuk makan malam. Heldy mendampingi Bung Karno di jok belakang. Sementara anggota keluarga lainnya ikut dengan mobil lainnya. Dalam perjalanan itulah Bung Karno mulai mengutarakan lagi tentang ketertarikannya kepada Heldy. Beliau pun berkata kepada Heldy, “ Dik, kau tahu. Kau tidak pernah mencari aku, aku juga tidak mencari engkau. Tapi Allah sudah mempertemukan kita.” Bung Karno selalu memanggil Heldy dengan sebutan Dik, dan belakangan ia juga menolak Heldy memanggil Pak. Ia ingin Heldy memanggilnya Mas.
Akhirnya dengan tiga buah kendaraan, mereka pun telah sampai di daerah Sampur dan menikmati sate ayam kesukaan Bung Karno.
Setelah kunjungan saat itu, Bung Karno pun makin sering berkunjung ke rumah Heldy. Tidak hanya sekedar ingin bertemu dengan Heldy, Bung Karno pun juga memberikan sejumlah uang yang cukup besar kepada keluarga Heldy. Bahkan, Heldy pun juga diberi hadiah berupa mobil Holden Premier warna biru telur asin. Semenjak pemberian mobil tersebut, Heldy pun jadi sering ke Istana.
Kedekatan antara Bung Karno dengan Heldy membuat orang-orang berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Kebersamaan Bung Karno dengan Heldy tersebut tentu saja ada suka dan dukanya. Salah satunya adalah ruang gerak Heldy menjadi sangat sempit. Bung Karno tidak akan membiarkan ada hal buruk yang menimpa kekasihnya itu, sehingga setiap Heldy berangkat ke sekolah harus selalu dalam pengawalan. Akhirnya Heldy pun mengambil keputusan untuk bersekolah di rumah. Melalui home schooling tersebutlah, Heldy banyak belajar tentang bahasa Belanda dan bahasa Inggris.
Seiring bertambah eratnya hubungan Bung Karno dengan Heldy, maka hadiah dari Bung Karno mengalir terus tanpa pernah diminta. Bung Karno tidak hanya memberikan perhatian dan perlindungan, beliau juga memberikan Heldy sebuah rumah di Jln. Cibatu (kini Jln. Prof. Djokosutono). Bung Karno juga mengganti mobil Holden Premier pun dengan Mercedes Benz 220 S warna hitam bernomor polisi yang sesuai dengan tanggal lahirnya, B 1008.
Mereka pun Akhirnya Menikah
Setelah hampir setahun lamanya Bung Karno menjalin kasih dengan Heldy, akhirnya pada bulan Mei 1966, Bung Karno kembali meminta kesediaan Heldy menjadi istrinya. Saat itu, Heldy hanya bisa terdiam saja. Heldy tahu betul bahwa Bung Karno telah memiliki banyak isteri, yaitu Siti Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryatie, Kartini Manoppo, dan Yurike Sanger. Namun di antara beberapa isteri Bung Karno, dengan Yurike lah yang ia kenal dengan baik, karena pernah sama-sama menjadi anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika.
“Ketahuilah, bahwa yang ku cari bukan wanita yang cantik luarnya saja. Tapi juga yang cantik di dalamnya, dan itu ada padamu. Bagiku, kau sungguh menarik, dan kau juga bisa beribadah dan mengerti baca Al Quran, ini yang aku cari sesungguhnya.” Tutur Bung Karno
“Saya tidak bisa menolak lamaran Bapak, hubungan kita sudah telanjur dekat. Saya mau menikah dengan Bapak,” Heldy pun menjawab sambil menatap Bung Karno.
Setelah melalui pembicaraan yang cukup serius, akhirnya tanggal pernikahan pun dipilih yaitu 11 Juni 1966 atau lima hari setelah ultah tahun Bung Karno yang ke-65. Namun sayangnya, pernikahan Bung Karno dengan Heldy berlangsung dengan penuh keperihatinan, karena sehari sebelum resepsi pernikahan berlangsung, ayahanda Heldy yaitu H. Djafar meninggal dunia karena serangan jantung.
Akhirnya, pernikahan tersebut berlangsung dengan disaksikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Idham Chalid, Erham Djafar yang berperan sebagai wali, dan juga Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri. Bung Karno dan Erham berjabatan erat, kedua saksi mendengarkan kata yang terucap dari bibir Bung Karno.
Minta izin untuk menjauh 
Pada suatu siang, beberapa Corps Polisi Militer (CPM) bertandang ke rumah Heldy dan mengatakan  kepada Bung Karno bahwa rumah tersebut tidak layak untuk disinggahi seorang presiden. Akhirnya, Bung Karno pun tinggal bersama Yurike Singer di daerah Polonia, Jakarta Timur. Betapa malang nasib Heldy yang harus ke sana bila ingin bertemu dengan Bung Karno, suaminya yang sangat ia cintai.
Ketika Heldy menemui Bung Karno pun, suasana tidak seindah dulu lagi, karena  mereka bertemu dengan pengawasan dari Yurike. Heldy tak habis pikir, dulu ia adalah sahabat baik Yurike, tapi mengapa kini Heldy melihat ada api kecemburuan yang sangat besar di mata Yurike. 
Tidak hanya kecemburuan dari Yurike saja yang cukup meresahkan bagi Heldy, namun juga beberapa surat dan telefon yang kadang berisi terror, tentu saja inti dari terror tersebut adalah meminta Heldy untuk tidak menemui Bung Karno lagi. Maka pada suatu kesempatan, Heldy pun memberanikan diri berbicara dengan Bung Karno. Ia berkata, “ Mas, saya sungguh tidak tahan lagi dengan situasi ini. Kita tidak bisa terus bersama, dan kalau bertemu harus di rumah orang lain. Saya mohon izin untuk menjauh dari Mas.”
“Dik, aku tidak mau pisah sama kau. Kau cinta terakhirku. Aku tak kan meninggalkanmu, kecuali bila aku pulang ke Rahmatullah.” Air mata Heldy menetes perlahan dan membasahi tangan Bung Karno yang diciumnya. Ia ingin menjelaskan kepada Bung Karno bahwa ia sangat menderita lahir bathin selama ini. Namun semua itu ia simpan karena tak ingin menambah beban pikiran Bung Karno.
Namun, akhirnya Heldy pun berpisah juga dengan Bung Karno. Kesedihan pun tersirat dari wajah kedua orang tersebut. Namun sesedih apapun, kehidupan harus terus berjalan. Setelah kepergian Heldy, Bung Karno tidak lagi tinggal di rumah Yurike, melainkan di rumah Ratna Sari Dewi. Sedangkan Heldy dipersunting oleh Gusti Suriansyah Noor yang merupakan putra Pangeran Mohamad Noor dari Istana Kutai Kartanegara yang pernah menjadi Menteri Pekerjaan Umum.

Kamis, 09 November 2006

Belajar Mengetahui Keperawanan Dari Bung Karno


Bukan Bung Karno bila tidak mengetahui seluk beluk tentang wanita. Selain tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik dan benar, Bung Karno tahu bagaimana cara membedakan antara wanita yang masih perawan dengan yang sudah kehilangan keperawanannya.
Pengakuan Soekarno tentang caranya mengetahui keperawanan seorang wanita, tertuang di dalam sebuah buku karya tokoh pers dan sejarahwan Indonesia, Rosihan Anwar yang berjudul “In Memoriam” Dalam buku In Memoriam tersebut, secara gamblang Bung Karno menjelaskan bagaimana cara mengetahui keperawanan seorang gadis kepada Rosihan Anwar.
“Tahukah kamu bagaimana cara memastikan apakah seorang gadis pada penglihatan luar masih perawan atau tidak?” Tanya Bung Karno kepada Rosihan Anwar.
“Tidak tahu Bung,” Jawab Rosihan Anwar
“Begini… Jika kamu tarik een denkbeeldige recthe li jin (suatu garis imaginer yang lurus) di atas dada si gadis, dari pertengahan lengan yang satu ke lengan yang lain, lalu kamu tentukan pada penglihatan dari luar saja di mana letaknya ujung-ujung payudaranya (pentil), di atas garis atau bawahnya, maka kamu akan bisa berkata, jika di bawah garis dia tidak lagi perawan,tapi jika tetap, dia masih perawan.” Jawab Bung Karno
Adapun penjelasan dari jawaban Bung Karno tersebut adalah lengan kita terdiri dua bagian, lengan bagian atas dan juga lengan bagian bawah. Adapun pengertian dari kata membagi garis adalah garis pertengahan lengan atas. Perkirakanlah garis tengah antara lengan atas tersebut. Selanjutnya, perlahan-lahan tariklah garis khayal antara pertengahan lengan atas lengan kanan ke lengan kiri. Apabila garis khayal tersebut berada tepat di bawah ‘pentil’ payudara, maka menurut perhitungan Bung Karno, gadis tersebut bisa dijamin masih perawan. Namun sebaliknya, apabila ‘pentil’ payudara gadis tersebut berada di bawah pentil, maka bisa dipastikann bahwa gadis tersebut sudah tidak perawan lagi.
Tips di atas bisa Anda gunakan untuk mengetahui keperawanan gadis yang masih berusia di bawah 25 tahun atau 30 tahun. Kita sama-sama tahu bahwa faktor usia bisa mempengaruhi terhadap kencang dan kendornya sebuah payudara. Namun sayangnya, para gadis sekarang sering menggunakan silicon sehingga hasil perhitungan di atas bisa saja tidak valid.

Kamis, 02 November 2006

Soekarno, Harun Al Rasyid Dari Indonesia


Kehidupan Bung Karno yang memang sudah susah sejak awal telah membentuk sebuah karakter tersendiri baginya. Belum lagi, segala penderitaan yang ia rasakan membuatnya tumbuh menjadi seorang pemimpin yang arif dan penuh dengan simpati. Ia menjadi seorang pemimpin yang tak sanggup untuk makan enak ketika rakyatnya kelaparan. Ia juga susah tidur ketika melihat rakyatnya harus tidur beratapkan langit. Begitulah Soekarno, ia begitu dekat dengan rakyat sehingga apa yang selalu ia rasakan dan pikirkan hanyalah untuk rakyat yang selama ini telah begitu percaya bahwa mereka akan aman bila ada di bawah kepemimpinannya.
Bung Karno seharusnya bisa dijadikan sebagai salah satu contoh yang baik bagi mereka yang ingin menjadi presiden. Karena dalam kehidupan Bung Karno, beliau selalu menomor satukan kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu saja, kehidupan dan kesejahteraan rakyat juga selalu menjadi titik tumpu pemikiran Bung Karno. Maka dari itu, jangan heran bila tiap kali Bung Karno pidato, beliau selalu dikelilingi oleh rakyat dan para pendukungnya. Semua itu tidak lepas dari rasa kepemilikkannya (sense of belonging) nya terhadap tanah air terncinta ini.
Selain itu, gemblengan kehidupan di dalam penjara pun membuat Bung Karno menjadi seseorang yang tidak dapat hidup sendirian. Selama mata belum terpejam, ia selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia ada di sampingnya untuk mendengarkan ide-ide demi majunya pemerintahan Indonesia di masa depan.
Bung Karno selalu merasa bahwa ia terlahir dari rahim rakyat jelata dan turut dibesarkan serta diasuh oleh rakyat. Itulah sebabnya mengapa Bung Karno selalu menomor satukan aspirasi dan kepentingan rakyatnya. Tidak hanya itu saja, tak jarang ia pun juga mengikut sertakan rakyat di dalam berbagai macam aktivitas perjuangannya. Banyak sekali lapisan masyarakat yang pernah turut serta dalam perjuangan Bung Karno, mulai dari petani, buruh bahkan para wanita tuna susila.
Rakyat telah menjadi nafas bagi Bung Karno, itulah yang membuat Bung Karno mengatakan dalam bukunya, bahwa ia sering merasa lemas, nafas seakan berhenti bila tidak keluar istana dan bersatu dengan rakyat yang telah melahirkannya.
Bung Karno memang sering keluar istana sekedar untuk melihat rakyatnya. Beliau hanya menggunakan sandal, pantaloon dan juga berkemeja serta menenakan kacamata yang berbingkai tanduk. Sehingga dengan demikian, tak ada satu pun orang yang bisa mengenalinya. Dengan “penyamaran” seperti itu, tentu saja Bung Karno bisa dengan bebas keluar masuk istana untuk menemui para rakyatnya.
Satu keistimewaan lainnya dari Bung Karno adalah bahwa ia tak pernah malu untuk makan sate di pinggir jalan. Kehidupannya benar-benar jauh dari kesan “glamour”, sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan presiden-presiden era sekarang. Maka jangan salah, bila beberapa cendekiawan muslim menyebut Bung Karno sebagai Harun Al Rasyid dari Indonesia.
Namun sesekali, penyamaran Sang Harun Al Rasyid pun terbongkar. Terlebih bila beliau lupa untuk tidak berbicara. Hal tersebut pernah terjadi, ketika beliau berjalan-jalan di Senen, Jakarta pusat. Saat itu Bung Karno sedang mengamati pembangunan sebuah gudang stasiun. Saat itu, Bung Karno keceplosan bertanya kepada salah satu tukang bangunan, “Dari mana diambil batubata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?”.
Akhirnya, semua orang yang berada di tempat itu dengan spontan berkata, “Itu suara Bapak… Ya… suara Bapak!!!… Hee… orang-orang, ini Bapak…. Bapak….!!!!”

Rabu, 01 November 2006

Pernah Dikibuli Seorang Pelacur


Tidak semua pengalaman seorang presiden itu harus manis. Mantan orang nomor satu di Indonesia pun pernah mengalami sebuah peristiwa yang cukup mengejutkan, yaitu dikibuli oleh seorang pelacur. Bagaimana ceritanya Bung Karno bisa tertipu oleh seorang pelacur?.
Pada masa pemerintahan Soekarno, ada dua nama yang dulu cukup menggemparkan di Indonesia, yaitu Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kedua nama tersebut bukanlah nama orang terkenal, mereka hanyalah orang biasa namun sempat membuat geger Indonesia saat itu. Nama Markonah “melejit” pada tahun 1950-an. Ketika itu, Indonesia sedang bekerja keras untuk membebaskan Irian Barat yang saat itu masih dikuasai oleh Belanda. Waktu itu sekitar tahun 1950-an, Indonesia sedang berjuang membebaskan Irian Barat. Pada waktu itu, Markonah berusia 50-an. Secara fisik, Markonah bukanlah wanita yang cantik. Ia selalu menggunakan kacamata berwarna hitam untuk menutupi  cacat di matanya.
Raja Idrus dan Ratu Markonah adalah sepasang suami-istri yang selalu mengaku sebagai raja dan ratu Suku Anak Dalam, Sumatera. Usaha penipuan tersebut pun tidak setengah-setengah, mereka benar-benar berusaha menciptakan kebohongan publik dengan mengaku sebagai seorang penguasa Suku Anak Dalam Sumatera. Bahkan, mereka juga menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang mengunjungi beberapa daerah di tanah air ini. Dengan dandanan dan penampilan yang cukup meyakinkan semua orang, ratu palsu tersebut bisa membuat semua orang terkesima, sehingga para pejabat daerah pun menyambut kedua ratu palsu tersebut dengan tangan terbuka.
Tidak hanya memberi jamuan yang istimewa, para pejabat daerah tersebut juga memuji penampilan sang ratu palsu dengan pujian yang luar biasa. Raja Idrus dan Ratu Markonah pun diajak untuk foto bersama dan tentu saja diliput oleh media massa. Entah bagaimana ceritanya, ketenaran kedua penguasa palsu tersebut pun sampai ke telinga Bung Karno. Tidak hanya itu saja, keduanya pun secara resmi berkenalan dengan Presiden Soekarno.
Seorang sejarahwan Universitas Indonesia yang bernama Anhar Gonggong menyebutkan bahwa, “Pejabat ini, saya nggak tahu namanya, menyampaikan ke Bung Karno, kalau Raja Idrus dan Ratu Markonah sudah seharusnya diterima di istana. Sebab raja dan ratu itu bisa membantu pembebasan Irian Barat,”
Bung Karno tentu saja tidak bisa menolak kedatangan kedua penguasa palsu tersebut, karena pada saat itu, Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih berada di tangan Belanda. Maka Bung Karno pun mengundang kedua penguasa palsu tersebut Istana Merdeka. Selain mendapatkan sambutan dan jamuan yang istimewa, Raja Idrus dan Ratu Markonah juga mendapat uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Presiden Soekarno juga memberikan mereka uang menginap di hotel mewah dan makan gratis selama berminggu-minggu.
Namuan akhirnya, kedua penguasa palsu tersebut pun ketahuan belangnya. Mereka tertangkap basah ketika sedang asyik berwisata dan berbelanja bermacam-macam cindera mata di sebuah pasar di Jakarta.
Anhar Gonggong berkata, “Saat itu ada tukang becak yang mengenali Idrus, karena Idrus itu ternyata tukang becak. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok penipu itu. Markonah ternyata seorang pelacur kelas bawah di Tegal, Jawa Tengah. “Lucu itu, presiden kok bisa tertipu,”
Penipuan yang dilakukan oleh Idrus dan Markonah merupakan kasus penipuan nasional pertama yang dialami negeri ini dengan korban istana.